Untuk beberapa
alasan aku menyukai hujan. Sebenarnya tidak ada alasan yg begitu romantis di
dalamnya. Hanya saja, aku begitu menyukai nya. hujan memberikan keteduhan yang
tidak bisa di berikan panas. Hujan memberikan ketenangan lewat suara rintik
nya. hujan juga membuat kehangatan dari kebersamaan yang di pertemukannya. Untuk itulah aku
menyukai hujan.
Ketika aku tidur,
dan ada suara petir, aku pasti tidak akan tertidur lagi. Petir yang bergemuruh
seperti nenek tua yang marah membuat tidur nyenyak jadi resah. Saat itu aku tak
kan bisa memejam kan mataku lagi untuk tertidur lelap. Sungguh petir adalah hal
yang merusak ketenangan saat aku tertidur.
Entah mengapa,
saat petir yang bergemuruh itu aku hanya menunggu sesuatu. Hujan. Ya, aku
menunggu hujan. Hujan akan turun dan menenangkan petir yang sedang marah. Hujan
akan menutupi suara petir yang galak dengan sura rintiknya yang bersenandung. Seolah-olah,
aku sedang di peluk oleh ibu ku. Itulah kedamaian yang aku rasakan. Aku pun
bisa tertidur nyenyak. Oh, aku suka sekali hujan.
Mungkin saat kita
tak punya waktu untuk di habiskan bersama keluarga, hujan akan membantu. Tiba-tiba
hujan turun. Yang tadinya ingin keluar bermalam minggu dengan kekasihnya jadi
di batalkan acaranya, lalu ikut bergabung menonton TV dengan ayah sambil
meminum teh hangat yang kamu bikin untuk
di nikmati berdua bersama ayah. Oh,
indahnya hujan.
Aku suka sekali
hujan. Saat merasakan sedih yang begitu mendalam, entah mengapa hujan selalu
muncul. Seperti begitu mengenal aku. Seakan-akan dia menjadi sahabat yang ada
saat aku sedih dan ingin berbagi. Hujan menemani tangis ku, dengan ikut
menangis bersama ku. Menutupi suara tangis ku dengan suara rintik nya yang
lebih indah untuk di dengarkan.
Tapi, aku sudah
lama kehilangan hujan. Ini seperti musim kering yang panjang. Hati ku seperti
di selimuti kabut asap yang tebal yang butuh hujan untuk mengusirnya. Rindu yang
begitu menguap-nguap, tapi terkurung di suatu media yang sempit dan tak bisa
keluar. Panas, kering, dan menguap, segeralah menjadi hujan dan membasahi
kerinduan itu, agar ia sedikit merasa keteduhan. Dan di dalam otak ku, seperti
muncul petir-petir yang bergemuruh, perasaan kehilangan yang sulit di
kendalikan pikiran menjadi ancaman yang meresahkan. Aku hanya ingin dengar
nyanyian dari suara rintik hujan, agar suara gemuruh itu hilang dan kehangatan di peluk ibu terasa di tubuh yang menggigil
ini.
Tapi, musim hujan
ku belum datang. Dan aku tak mengharapkan hujan buatan. Hujan buatan hanya
penolong sesaat dan tak sejati. Aku ingin musim hujan ku datang. Biar ku
buatkan teh untuk ayahku dan kami meminumnya berdua, biar aku di peluk ibu ku
saat aku kedinginan. Dan mungkin, hujan akan membawa ku pada keteduhan akan
hati yang sedang merindu ini.