Senin, 24 September 2012

Musim hujan ku belum datang


Untuk beberapa alasan aku menyukai hujan. Sebenarnya tidak ada alasan yg begitu romantis di dalamnya. Hanya saja, aku begitu menyukai nya. hujan memberikan keteduhan yang tidak bisa di berikan panas. Hujan memberikan ketenangan lewat suara rintik nya. hujan juga membuat kehangatan dari kebersamaan  yang di pertemukannya. Untuk itulah aku menyukai hujan.
Ketika aku tidur, dan ada suara petir, aku pasti tidak akan tertidur lagi. Petir yang bergemuruh seperti nenek tua yang marah membuat tidur nyenyak jadi resah. Saat itu aku tak kan bisa memejam kan mataku lagi untuk tertidur lelap. Sungguh petir adalah hal yang merusak ketenangan saat aku tertidur.
Entah mengapa, saat petir yang bergemuruh itu aku hanya menunggu sesuatu. Hujan. Ya, aku menunggu hujan. Hujan akan turun dan menenangkan petir yang sedang marah. Hujan akan menutupi suara petir yang galak dengan sura rintiknya yang bersenandung. Seolah-olah, aku sedang di peluk oleh ibu ku. Itulah kedamaian yang aku rasakan. Aku pun bisa tertidur nyenyak. Oh, aku suka sekali hujan.
Mungkin saat kita tak punya waktu untuk di habiskan bersama keluarga, hujan akan membantu. Tiba-tiba hujan turun. Yang tadinya ingin keluar bermalam minggu dengan kekasihnya jadi di batalkan acaranya, lalu ikut bergabung menonton TV dengan ayah sambil meminum teh hangat  yang kamu bikin untuk di nikmati berdua  bersama ayah. Oh, indahnya hujan.
Aku suka sekali hujan. Saat merasakan sedih yang begitu mendalam, entah mengapa hujan selalu muncul. Seperti begitu mengenal aku. Seakan-akan dia menjadi sahabat yang ada saat aku sedih dan ingin berbagi. Hujan menemani tangis ku, dengan ikut menangis bersama ku. Menutupi suara tangis ku dengan suara rintik nya yang lebih indah untuk di dengarkan.
Tapi, aku sudah lama kehilangan hujan. Ini seperti musim kering yang panjang. Hati ku seperti di selimuti kabut asap yang tebal yang butuh hujan untuk mengusirnya. Rindu yang begitu menguap-nguap, tapi terkurung di suatu media yang sempit dan tak bisa keluar. Panas, kering, dan menguap, segeralah menjadi hujan dan membasahi kerinduan itu, agar ia sedikit merasa keteduhan. Dan di dalam otak ku, seperti muncul petir-petir yang bergemuruh, perasaan kehilangan yang sulit di kendalikan pikiran menjadi ancaman yang meresahkan. Aku hanya ingin dengar nyanyian dari suara rintik hujan, agar suara gemuruh itu hilang dan kehangatan  di peluk ibu terasa di tubuh yang menggigil ini.
Tapi, musim hujan ku belum datang. Dan aku tak mengharapkan hujan buatan. Hujan buatan hanya penolong sesaat dan tak sejati. Aku ingin musim hujan ku datang. Biar ku buatkan teh untuk ayahku dan kami meminumnya berdua, biar aku di peluk ibu ku saat aku kedinginan. Dan mungkin, hujan akan membawa ku pada keteduhan akan hati yang sedang merindu ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar